diklat

  • Mengenal sekilas Program Diklat Solo Techno Park

    Sejak awal Solo Techno Park diresmikan tahun 2009 silam, divisi Pendidikan dan Latihan (Diklat) merupakan divisi yang pertama kali bisa dibuka. Hal ini tak lepas dari sejarah berdirinya STP yang berawal dari Surarakarta Competency and Technology Center (SCTC). Sebuah lembaga diklat yang didirikan Pemerintah Kota Solo bersama Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI). Bisa dibilang, Divisi Diklat sebagai salah satu fondasi yang menyangga STP sejak awal kelahirannya.

    Pada periode awal, Divisi Diklat STP membuka tiga program reguler yaitu Diklat Las Darat, Mekanik Garmen, dan Mekanik Manufaktur. Tiga program tersebut rutin dibuka setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk industri di berbagai daerah, khususnya di sekitar Solo. Seiring berjalannya waktu, dibukalah program Diklat Las Dalam Air (underwater welding) sebagai pengembangan program las darat. Belakangan, Divisi Diklat kembali membuka program baru yaitu Diklat Otomasi dan Desain Mekanik.

    “Dua program baru itu kita buka atas dasar permintaan dunia industri. Ternyata banyak pabrik-pabrik yang membutuhkan tenaga terampil di dua bidang itu,” kata Kepala Divisi Diklat, Sutrisno.

    Karena sesuai dengan kebutuhan dunia industri, tingkat serapan industri terhadap lulusan Program Dilat STP sangat tinggi. Setiap angkatan yang lulus Program Diklat, rata-rata terserap industri 95-98 persen. Tingginya serapan ini menunjukkan tingkat kepercayaan dunia industri terhadap STP.

    “Yang tidak terserap bukan berarti tidak bagus. Sebagian meneruskan kuliah. Ada juga yang membuka usaha sendiri,” kata dia.

    Tentunya, STP harus menjaga kualitas lulusannya untuk menjaga kepercayaan berbagai perusahaan yang selama ini bermitra dengan STP. Untuk itu, STP lebih menekankan keterampilan daripada teori dengan porsi masing-masing 75 % praktek dan 25 % teori. Dengan demikian, lulusan program diklat STP benar-benar terampil dan memiliki dasar pengertian yang memadai. Untuk menjalankan kurikulum yang cukup padat itu, STP didukung 17 pengajar dengan bertahun-tahun pengalaman lapangan. Peserta program pun harus menghadapi ujian ketat sebelum lulus dan terjun ke dunia kerja.

  • Pengin Ikut Diklat Kewirausahaan Solo Technopark? Ini Syaratnya

    Solo Technopark membuka program pendidikan dan pelatihan (Diklat) kewirausahaan bertajuk Inkubator Bisnis dan Teknologi (IBT). Proses pendaftarannyapun sangat gampang lantaran bisa dilakukan secara online. Nah, jika kamu pengin mengikuti program itu, ketahui dulu syarat-syaratnya.

    Yup, bagi kamu yang punya usaha berkaitan dengan teknologi ataupun baru punya ide tentang bisnis start up bisa mengikuti Diklat. Adapun syaratnya, menurut Kepala Divisi Inkubator Bisnis dan Teknologi Solo Technopark, Susilo Budi, peserta setidaknya harus punya ide usaha. Selain itu produk yang hendak dikembangkan berorientasi pada bidang tertentu. Dalam hal ini teknologi informasi dan komunikasi, industri kreatif (tekstil), energi ataupun rekayasa manufaktur.

    Sementara jangka waktu usaha antara nol hingga tiga tahun. Dengan kata lain, masyarakat yang belum memiliki usaha, namun punya ide usaha berkesempatan mengikuti program Diklat. Sedangkan pelaku bisnis bisa mendaftar manakala usahanya berjalan maksimal tiga tahun.

    “Produk bisa berasal dari lembaga penelitian dan pengembangan, perguruan tinggi dan masyarakat umum. Produk diutamakan yang bersentuhan dengan teknologi,” tambah Susilo Budi.

    Pendaftaran online sendiri sudah bisa diakses pada 10 Oktober 2017 lalu. Selain mendaftar, lewat situs  http://technopark.surakarta.go.id/pendaftaran/ peminat program juga bisa mendapat sejumlah informasi Diklat.

    Sebagaimana penerimaan peserta pada umumnya, Solo Technopark akan melakukan proses seleksi. Pihak manajemen tidak memungut biaya, baik saat proses pendaftaran maupun selama pelaksanaan Diklat. Program ini bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

    IBT merupakan sebuah program pembinaan, pendampingan dan pengembangan serta menangani manajemen aspek produksi dan pemasaran yang dilakukan inkubator bisnis Solo Technopark kepada peserta program atau tenant.

  • Peserta Diklat Solo Technopark Diharapkan Kuasai Gambar Kerja

    Banyak materi diajarkan dalam program pendidikan dan pelatihan (Diklat) Solo Technopark. Adapun di tingkat basic, siswa mendapat pembelajaran keteknikan seperti permesinan manual dasar serta gambar teknik. Mereka diharapkan memiliki keterampilan itu semua, termasuk menguasai gambar kerja.

    Penguasaan gambar kerja menjadi penting lantaran menjadi acuan dalam merealisasikan ide ke wujud fisik. Gambar kerja harus dipahami seluruh peserta program Diklat, mengingat secara teknis dibutuhkan dalam proses konstruksi.

    Instruktur Gambar Teknik Diklat Solo Technopark, Devi Valsa Deandra, menyatakan di tiga bulan pertama program, siswa mendapat pembelajaran dasar keteknikan. Mereka dibekali keterampilan gambar teknik dan diharapkan mampu membuat gambar kerja siap produksi.

    “Siswa belajar basic di tiga bulan pertama pelaksanaan program. Di section ini (gambar teknik), harapannya mereka bisa bikin gambar kerja yang siap produksi. Minimal mereka bisa membaca gambar kerja,” ujarnya.

    Gambar kerja merupakan disiplin akademis untuk membuat standar teknis gambar oleh perancang. Standar dan konvensi untuk tata letak, ketebalan baris, ukuran teks, simbol, proyeksi melihat, geometri deskriptif, dimensi dan notasi yang digunakan untuk membuat gambar idealnya ditafsirkan hanya satu cara. Gambar kerja terdiri dari berbagai unsur, memuat informasi mengenai dimensi, bahan dan warna.

    Sementara itu, untuk bisa menguasai gambar teknik, peserta program Diklat harus memahami beberapa ilmu dasar terlebih dahulu seperti garis maupun konstruksi geometris. Siswa harus memahami dasar-dasar gambar teknik, di antaranya ketebalan garis dan fungsi garis.      

     

  • Praktik Benchwork, Siswa Diklat Manufaktur Diharapkan Terampil dan Profesional

    Solo Technopark membekali pengetahuan permesinan peserta program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Mekanik Manufaktur dengan pengajaran teori dan praktik. Mereka pun dididik menjadi tenaga kompeten dan ahli di bidangnya. Selain menguasai operasional mesin, siswa juga dilatih praktik kerja bangku atau benchwork dengan harapan bisa terampil dan profesional di industri manufaktur.

    Benchwork merupakan salah satu kegiatan dalam industri manufaktur secara manual, semiotomatis maupun otomatis. Kendati demikian dalam proses manufaktur sederhana, praktik benchwork cenderung dilakukan secara manual. Aktivitas ini merupakan kegiatan dasar pengerjaan material benda kerja secara manual dengan beberapa proses, di antaranya pengikiran, pengeboran serta penggergajian.     

    Dalam praktik kerja bangku, dikatakan Instruktur Benchwork Diklat Mekanik Manufaktur Solo Technopark, Agus Wahyudi, peserta Diklat dilatih mensinkronkan kemampuan tangan dengan pikiran. Ini penting dilakukan mengingat segala proses pengerjaan material benda kerja dilakukan secara manual.

    “Siswa harus bisa mensinkronkan tangan dengan pikiran karena kalau tidak sinkron akan susah. Hal utama di sini adalah melatih keterampilan tangan. Selama tiga minggu di benchwork, mereka harus bisa menyelesaikan lima part,” ujarnya. 

    Penguasaan kemampuan benchwork, praktis menjadi modal berharga bagi peserta Diklat untuk bisa terampil dan profesional di industri mekanik. Selain itu, mereka juga akan lebih disiplin, mengingat praktik kerja bangku melatih ketekunan dan kesabaran. Kegiatan ini tak hanya berfokus pada pencapaian hasil semata, namun berkaitan dengan proses kerja.

    Karakter seorang engineer dibentuk di benchwork. Oleh sebab itu, manakala siswa terampil, disiplin dan profesional, menurut Agus Wahyudi, mereka akan lebih siap ditempatkan di manapun, khususnya di industri mekanik. Siswa tak khawatir menangani pekerjaan berat karena yakin mampu menemukan solusi.

    “Harapannya setelah kompetensi ini, mereka siap ditempatkan di mana saja dan siap menghadapi. Mereka diharapkan tidak akan pilih-pilih pekerjaan. Jika diberi pekerjaan berat tetap bisa mengerjakan dan mampu memecahkan sendiri,” kata dia. 

  • Sistem Diklat Mekanik Solo Technopark Sesuai Kebutuhan Industri

     
    Solo Technopark berkomitmen mengentaskan pengangguran lewat program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Mekanik. Dalam upaya mencetak tenaga-tenaga profesional, peserta Diklat dibekali berbagai kemampuan keteknikan. Materi dan sistem pendidikannyapun disesuaikan kebutuhan industri.   
     
    Sebagaimana dikatakan Head of Mechanic Dept Solo Technopark, Sutrisno, kurikulum pendidikan dan pelatihan (Diklat) mekanik mengikuti kebutuhan industri. Dengan kata lain, program yang dibuka menyesuaikan perkembangan teknologi serta tuntutan pasar agar nantinya lulusan dapat terserap industri.
     
    “Kurikulum Diklat mengikuti industri. Program yang dibuka sesuai dengan perkembangan teknologi dan tuntutan pasar. Saat ini apa yang dibutuhkan industri pas, itulah mengapa lulusan kami (Diklat Mekanik Solo Technopark) yang terserap di industri banyak,” ujarnya.
     
    Selama menjalani Diklat, siswa dididik menjadi tenaga kompeten dan ahli di bidangnya. Mereka diharapkan bisa menguasai teknis operasional beberapa jenis mesin. Oleh sebab itu, selain dibekali teori, peserta program juga mendapat pembelajaran praktik langsung dengan mesin produksi.
     
    Diklat Mekanik Solo Technopark tak hanya mengajarkan pada pencapaian hasil semata, namun juga melatih mengelola proses kerja secara baik. Siswa harus bertumpu pada etos kerja tinggi mencakup kedisiplinan, ketekunan, ketahanan serta penguasaan teknik.    
     

    “Kami siapkan satu mesin satu siswa agar mereka benar-benar menguasai. Waktu Diklat perminggu 40 jam, dihitung dari praktik dan teori. Sementara untuk kurikulumnya mengikuti industri,” ungkap Sutrisno.

     

Anda disini: Home
STP Homepage

Kawasan Solo Technopark (STP) secara resmi berada di bawah pengelolaan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.

Layanan Pengguna