Lulusan SMK Banyak Menganggur Karena Salah Terapkan Kurikulum?

 
Jumlah penggangguran di Indonesia pernah disebutkan sebagian besar berasal dari jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Besarnya kontribusi lulusan SMK terhadap jumlah penggangguran ini salah satunya disebabkan oleh kurikulum pendidikan yang kurang tepat. Benarkah demikian?
 
Kepala Divisi Diklat Solo Technopark, Sutrisno tidak menampik alasan itu. Menurut pengalamannya mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) Solo Technopark, kurikulum pendidikan sangat perlu untuk selalu disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan industri.
 
Kata dia, lulusan SMK menganggur bukan karena tidak pintar, melainkan lantaran kemampuan atau keahlian yang dimiliki siswa hanya tidak seusai dengan kebutuhan industri. "Dokter kalau melamar di bidang teknik mesin, lalu tidak ketrima itu bukan berarti bodoh. Itu karena tidak pas saja," terangnya. 
 
Sutrisno pun mengklaim bahwa Solo Technopark sudah berupaya untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri. Dia mengibaratkan seperti menjemput bola. "Kita datang ke industri, tanya butuh apa. Oh sedang butuh desain mekanik. Ya kami ajarkan desain mekanik ke siswa," terangnya. 
 
Meski sekarang ini teknologi semakin canggih, Sutrisno mengaku siswa diklat STP tetap diajarkan bagaimana mengoperasi mesin manual. "Kalau di pendidikan (sini), walaupun mesin manual, tetap diajarkan sebagai dasar. Mesin otomasi pun juga harus dikenalkan juga untuk mengimbangi. Makanya pas," paparnya. 
 
Kurikulum pendidikan yang seperti itu terbukti mampu mengurangi angka pengangguran. Kata dia, sekitar 99 persen lulusan diklat Solo Technopark sudah bekerja di industri. 
 
 

 

Anda disini: Home Media Publik Event dan Berita Lulusan SMK Banyak Menganggur Karena Salah Terapkan Kurikulum?
STP Homepage

Kawasan Solo Technopark (STP) secara resmi berada di bawah pengelolaan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.

Layanan Pengguna