Pendaftaran Diklat Mekanik Online Solo Technopark

Dilihat: 1998

Pendaftaran Diklat Mekanik Online Solo Technopark

Pendaftaran diklat mekanik online langsung saja klik link berikut "http://technopark.surakarta.go.id/pendaftaran/diklat.html"

PENDAFTARAN DIKLAT MEKANIK

Syarat Pendaftaran:

  • Usia saat masuk diklat maksimal 24 tahun

  • Foto copy ijazah yang dilegalisir SMA/SMK/sederajat semua jurusan 2 lembar

  • Foto copy SKHUN 2 lembar

  • Pas foto ukuran 3x4 2 lembar 

  • Foto copy KTP 2 lembar

  • Foto copy KTP orang tua masing-masing 2 lembar

  • Foto copy kartu keluarga 2 lembar

  • Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) asli

  • Sehat Jasmani dibuktikan dengan Surat Keterangan Sehat dari dokter/puskesmas 

  • Tinggi minimal 155 cm dan berat minimal 45 kg

  • Tidak cacat fisik/mental yang dapat mengganggu proses diklat

  • Tidak buta warna total

  • Bukan penderita ayan/epilepsi

* Berkas point 8 dan 9 bisa menyusul setelah lolos tes

Semua berkas pendaftaran dimasukkan kedalam stopmap warna merah & ditulis Nama, No.Hp, Alamat, dan Asal Sekolah

 

Solo Technopark

Jl. Ki Hajar Dewantara, Kentingan, Jebres Surakarta 57126

Phone (0271) 666 628

Fax     (0271) 668 848

Tenaga Pendidik yang Kompeten Menghasilkan SDM yang Berkompeten

Dilihat: 1092
 
Suksesnya proses pembelajaran tidak hanya didukung oleh sarana dan prasana yang memadai tapi juga tenaga pengajar yang berkompeten. Tenaga pendidik memiiki peran besar dan strategis dalam hal mencerdaskan anak bangsa.
 
Jika kualitas pengajar rendah, dapat dipastikan mutu pendidikan juga akan mengikutinya. Demikian juga sebaliknya. 
 
Oleh karena itu, Solo Technopark (STP) menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan yang kredibel untuk menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan (diklat) mekanik. Salah satu lembaga yang digandeng yaitu Politeknik ATMI. 
 
Politeknik ATMI Surakarta adalah institusi pendidikan tinggi yang berkonsentrasi pada pendidikan vokasi di bidang manufaktur (mesin industri) yang mengadopsi model pendidikan dua system dari Jerman dan Swiss. Siswa didikan ATMI sudah diakui kualitasnya oleh pemerintah, dunia industri mauppun masyarakat luas. Tak hanya terampil secara teknis, tetapi juga mereka juga disegani karena sikap dan integritas dalam cara bertindak. 
 
Bahkan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla sempat memuji Politeknik ATMI dalam kunjungannya pada November lalu. Jusuf Kalla berharap ATMI bisa menjadi contoh yang baik bagi lembaga pendidikan yang lain. Semua itu membuktikan bahwa kualitas staf pengajar ATMI tidak perlu diragukan lagi. 
 
Selain dari ATMI, Solo Technopark juga menggandeng I-Con (Industries Connectivity) untuk memberikan pelatihan Desain Mekanik. STP juga bekerjasama dengan PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia untuk melaksanakan diklat Basic Aircraft Structure Training.

Mengenal Sekilas Program Edukasi Andalan Solo Science Center (SSC)

Dilihat: 1003
 
Solo Science Center (SSC) tidak hanya memajang alat-alat peragaan sains, tapi juga mempunyai beberapa program edukasi yang menarik. Salah satunya yaitu program pembuatan roket air.
 
"Selain alat peraga keliling, kita ada program pembuatan roket air dan program penanaman hidroponik," demikian yang disampaikan Rini Suwastiar, Pelaksana Tugas Pengelola Science Center Solo. 
 
Rini menjelaskan, program pembuatan roket air hanya boleh diikuti oleh pengunjung berusia di atas 12 tahun. "Untuk pembuatan roket air, minimal Sekolah Menengah Pertama (SMP), sekitar 15 tahun," jelasnya. 
 
Ketika ditanya lebih jauh mengenai usia, Rini mengatakan anak kecil tidak boleh mengikuti program tersebut karena alasan keamanan dan keselamatan. "Kalau anak kecil itu riskan. Alat-alatnya seperti motong botol. Anak SD itu yang ringan-ringan saja," ungkapnya. 
 
Program pembuatan roket ini cukup diminati oleh masyarakat. Bahkan, setiap tahun sekali, Solo Science Center (SSC) mengadakan kompetisi roket air tingkat regional. Agenda tahunan tersebut biasanya diikuti ratusan pelajar Kota Solo dan sekitarnya.

Lulusan SMK Banyak Menganggur Karena Salah Terapkan Kurikulum?

Dilihat: 970
 
Jumlah penggangguran di Indonesia pernah disebutkan sebagian besar berasal dari jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Besarnya kontribusi lulusan SMK terhadap jumlah penggangguran ini salah satunya disebabkan oleh kurikulum pendidikan yang kurang tepat. Benarkah demikian?
 
Kepala Divisi Diklat Solo Technopark, Sutrisno tidak menampik alasan itu. Menurut pengalamannya mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) Solo Technopark, kurikulum pendidikan sangat perlu untuk selalu disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan industri.
 
Kata dia, lulusan SMK menganggur bukan karena tidak pintar, melainkan lantaran kemampuan atau keahlian yang dimiliki siswa hanya tidak seusai dengan kebutuhan industri. "Dokter kalau melamar di bidang teknik mesin, lalu tidak ketrima itu bukan berarti bodoh. Itu karena tidak pas saja," terangnya. 
 
Sutrisno pun mengklaim bahwa Solo Technopark sudah berupaya untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri. Dia mengibaratkan seperti menjemput bola. "Kita datang ke industri, tanya butuh apa. Oh sedang butuh desain mekanik. Ya kami ajarkan desain mekanik ke siswa," terangnya. 
 
Meski sekarang ini teknologi semakin canggih, Sutrisno mengaku siswa diklat STP tetap diajarkan bagaimana mengoperasi mesin manual. "Kalau di pendidikan (sini), walaupun mesin manual, tetap diajarkan sebagai dasar. Mesin otomasi pun juga harus dikenalkan juga untuk mengimbangi. Makanya pas," paparnya. 
 
Kurikulum pendidikan yang seperti itu terbukti mampu mengurangi angka pengangguran. Kata dia, sekitar 99 persen lulusan diklat Solo Technopark sudah bekerja di industri. 
 
 

 

Manfaat Besar Program Inkubasi Bisnis Solo Technopark Bagi Startup Delivo

Dilihat: 1487
 
Selain program pendidikan dan pelatihan (diklat), Solo Technopark juga membuka program inkubasi bisnis dan teknologi (INBISTEK). Program ini diharapkan dapat menjadi alternatif solusi bagi penyerap tenaga kerja di Indonesia dengan cara menumbuhkembangkan wirausaha baru berbasis teknologi.
 
Program inkubasi Solo Technopark telah menaungi cukup banyak generasi muda yang tertarik dan memiliki ide bisnis yang berpotensi. Salah satu pelaku usaha yang telah menikmati manfaat dari inkubator bisnis ini adalah Ryo Juara. Pria lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) ini tengah mengembangkan usaha Delivery Oleh-Oleh Online (Delivo). 
 
Pada 2016, dia mendaftar untuk mengikuti inkubasi bisnis dengan menyodorkan proposal bisnis. Setelah melalui tahap seleksi, dia pun diberi modal sekitar Rp 147 juta untuk mengembangkan bisnisnya. 
 
"Modal sekitar 147 juta, tapi itu 70 persennya, yang 30 persen untuk pendampingan dari STP," ungkapnya melalui pesan singkat pada Jumat (29/12).
 
Selama setahun mengikuti program inkubasi bisnis, dia mengaku mendapatkan manfaat yang membuat bisnisnya terus berjalan hingga saat ini. Pada awalnya, ia mengaku usahanya terkendala modal yang terbatas. Publikasi dan mitra yang terbatas membuat bisnisnya hanya berkutat di area Solo saja. 
 
Kini setelah bergabung program inkubasi, ia memiliki jumlah driver lebih dari 70 orang sehingga bisa menjangkau area Solo, Sukoharjo, Semarang dan Lampung. Sekarang banyak perusahaan yang ingin menjadi mitra bisnisnya. Dengan modal yang diberikan STP, layanan Delivo menjadi lebih lengkap.
 

 

Inilah Alasan Solo Technopark Buka Program Diklat Baru Desain Mekanik

Dilihat: 1530
 
Pada 2017, Divisi Diklat membuka beberapa program baru. Desain Mekanik menjadi salah satunya. Kata Kepala Divisi Diklat, Sutrisno, program tersebut dibuka atas dasar permintaan kebutuhan industri.
 
"Jurusan yang baru yaitu Otomasi Manufaktur dan Desain Manufaktur. Kenapa dibuka jurusan itu, karena kebutuhan industri. Itu saja alasannya," ungkapnya saat ditemui di kantornya pada Kamis (21/12). 
 
Desain Mekanik dibuka sekitar Februari lalu. Untuk staf pengajar, Solo Technopark mengandeng I-Con (Industries Connectivity). I-Con adalah sekolah desain mekanik yang berbasis di Gedung Graha Prioritas lt.7, Jalan Slamet Riyadi 302 Surakarta.
 
Mengenai apa saja yang dipelajari dalam diklat Desain Mekanik, Sutrisno menerangkan beragam perangkat lunak (sofware) untuk menggambar. "Intinya ada sebelas 11 item untuk sofware menggambar. Sofware menggambar ini tergantung kebutuhan industri. Ada industri yang menggambar pakai CATIA saja, atau ada yang pakai AutoCAD saja," terangnya.
 
Di akhir masa pelatihan, siswa nanti diharapkan dapat membuat sebuah desain. Pelatihan desain mekanik memakan waktu sekitar selama 9 bulan.
 
Setelah dinyatakan lulus, siswa dapat bekerja di industri manufaktur bagian perancangan. Banyak pabrik-pabrik yang membutuhkan tenaga terampil di bidang tersebut. Misalkan saja industri otomotif yang selalu memodifikasi mesinnya.
 
"Misalkan di Honda atau Astra, mereka ada modifikasi mesin baru. Dari ide, nanti mereka yang membuat cetakannya," jelas Sutrisno.
 

 

Solo Technopark Adopsi Sistem Pendidikan Jerman, Apa Keunggulannya?

Dilihat: 1376
 
Jerman merupakan salah satu negara dengan perekonomian terkuat. Banyak industri otomotif terkenal dari negara ini seperti Mercedes-Benz, Volkswagen, Audi, dan Opel. Industri yang maju ini didukung dengan kualitas pendidikan yang baik pula. 
 
Banyak universitas dari Jerman yang masuk jajaran universitas terbaik di dunia. Sebut saja seperti Technical University Munich, University of Heidelberg, Technische Universität München dan masih banyak lagi. 
 
Melihat keberhasilan negara Jerman, lembaga pendidikan Indonesia pun mencontoh sistem pendidikan Jerman. Begitu juga dengan Solo Technopark. Sutrisno, Kepala Divisi Diklat mengatakan bahwa lima program pendidikan dan pelatihan (Diklat) Solo Technopark mengadopsi kurikulum pendidikan negara Jerman. "Staf pengajar kita dari ATMI. Dan ATMI menerapkan kurikulum pendidikan Jerman," katanya. 
 
Pendidikan vokasi di Jerman didesain untuk memberikan ilmu secara teori dan praktik bagi siswa. Dalam proses pembelajaran, 75 persen waktu siswa digunakan bekerja di industri, sedangkan sisanya mereka belajar teori di sekolah. Nantinya setelah siswa mengikuti pendidikan vokasi, mereka akan mendapatkan sertifikat dari asosiasi industri yang dapat digunakan untuk melamar pekerjaan. 
 
Solo Technopark juga demikian. Sebanyak 70 persen pembelajaran berupa praktek, sisanya 30 persen teori. Pendidikan karakter juga tetap diutamakan. Misalnya jika ada peserta diklat yang terlambat datang maupun merusak alat akan dikenakan kompensasi tambahan jam kerja. 
 
Jika dinyatanya lulus, siswa dibekali sertifikat keahlian yang dapat digunakan untuk melamar pekerjaan. Dengan kombinasi antara teori dan praktek itu, dapat menjamin kualifikasi tinggi para siswanya.
 
Selain itu, faktor lain yang membuat pendidikan di Jerman adalah biayanya. Pendidikan gratis tersedia pada hampir semua institusi pendidikan. Sesuai Undang Undang Jerman, setiap warga negara Jerman berhak memilih jenis pendidikan yang mereka inginkan dan diberi akses ke pekerjaan yang diminati. Kebijakan ini membuat anak muda dapat tumbuh secara mandiri, profesional yang sesuai dengan kemampuannya. 
 
Tidak berbeda dengan Jerman, Solo Technopark juga menyediakan beasiswa penuh alias gratis untuk para peserta didiknya. Setelah lulus, Solo Technopark juga berupaya menyalurkan siswa bekerja ke berbagai perusahaan. Sehingga, 95 persen lulusan STP dipastikan terserap industri. 

 

Anda disini: Home Media Publik Event dan Berita
STP Homepage

Kawasan Solo Technopark (STP) secara resmi berada di bawah pengelolaan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.

Layanan Pengguna