Industri Kedirgantaraan Akan Lebih Sering Pakai Printer 3D

Menurut lembaga konsultasi MarketsandMarkets, produsen kedirgantaraan (areospace) akan menggunakan additive manufacturing (AM) untuk membuat lebih dari $3 miliar bagian-bagian pesawat pada 2022. Angka ini meningkat tajam karena pada 2017 hanya $700 juta yang dibuat dengan mesin AM.

Aerospace dan AM memiliki hubungan yang saling menguntungnya. Industri kedirgantaraan seringkali memerlukan kriteria yang spesifik untuk berat dan kinerja  bagian pesawat. Dan AM, atau disebut juga dengan cetak 3D bisa memenuhinya.

Tapi cetak 3D merupakan teknik produksi yang masih muda. Para teknisi aerospace perlu banyak belajar tentang proses produksi baru ini. Sistem cetak 3D yang saat ini kerap digunakan adalah sistem cetak laser powder-bed. Ada  berbagai sistem laser dan sistem pancaran elektron yang perlu dipelajari.

 Salah satu tren besar dalam AM adalah produksi bagian-bagian pesawat yang besar hingga 1-2 meter menggunakan teknik ini. Tapi harga serbuk logam (metal powder) bisa menjadi sebuah tantangan. Tren lainnya adalah desain berbasis simulasi. Cara ini membantu para teknisi mencapai pemanasan yang seragam untuk mikrostruktur yang seragam sebelum bagian-bagian pesawat dicetak. Pabrik pesawat juga membangun mesin-mesin dengan sensor dan kamera yang bisa mengukur suhu serbuk logam untuk meningkatkan kontrol.

Tren lainnya adalah serbuk logam  yang lebih murah. Dengan semakin populernya mesin cetak 3D berbasis laser powder bed, diharapkan harga serbuk logam semakin murah. Hal ini akan memicu semakin tingginya adopsi mesin ini dalam industri kedirgantaraan dan industri lainnya.

 

 

Sumber: Aviation Week.

 

Anda disini: Home Media Publik Sains dan Edukasi Industri Kedirgantaraan Akan Lebih Sering Pakai Printer 3D
STP Homepage

Kawasan Solo Technopark (STP) secara resmi berada di bawah pengelolaan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.

Layanan Pengguna