Pria Ini Miliki Mata Kamera Cyborg

Dilihat: 973

Rob Spence,seorang pembuat film dokumenter dari Kanada memiliki sebuah mata prostetik yang juga berfungsi sebagai kamera video. Rob tidak sengaja menembak matanya sendiri saat masih kecil. Kejadian itu membuat matanya rusak, hingga pada akhirnya pada 2007 matanya harus dicopot. Pria yang sekarang berusia 40 tahunan itu dulu bertanya jika dia bisa mengganti matanya dengan sesuatu selain mata prostetik biasa.

Dia mulai bicara dengan teknisi frekuensi radio independen dan desainer Kosta Grammatis. Kosta menolongnya mendesain mata kamera. Kamera nirkabel dipasang di belakang mata prostetik. Perlengkapan untuk menciptakan mata kamera itu termasuk transmitter mikro, baterai kecil, miniatur kamera dan sebuah magnetis yang berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan kamera. Setelah itu teknisi elektrik Martin Ling menolong mendesain sebuah papan sirkuit kecil untuk mengambil semua data dari kamera dan mengirimnya ke dunia yang lebih luas melalui sebuah receiver, menurut the Eyeborg Project, sebuah situs tentang proyek Spence. Versi pertama mata itu dibangun pada 2008.

Kamera itu tidak memiliki koneksi dengan otaknya atau saraf optik. Jadi Rob tidak bisa disebut cyborg sesungguhnya. Kamera itu bisa merekam selama 30 menit sebelum perlu direcharge. Selain itu, kamera itu dilengkapi lampu LED merah, sehingga orang yang direkam tahu jika dia direkam.

 

 

Sumber: LiveScience

Peneliti Harvard Ciptakan Robot Laba-Laba Dari Sedotan

Dilihat: 829

Para peneliti mulai menciptakan robot dari materi yang lebih lembut. Hal ini karena penciptaan beberapa robot perlu materi selain besi atau baja. Contohnya robot ulat kecil, robot cumi-cumi dan sejenisnya perlu materi yang lembut untuk berfungsi. Sekarang tim dari Universitas Harvard membuat robot serupa yang terinspirasi dari laba-laba. Uniknya, robot ini dibuat dari sedotan plastik dan bergerak menggunakan bola yang mengembang.

“Jika Anda melihat di seluruh dunia, ada banyak hal, seperti laba-laba dan serangga, mereka sangat lincah,” kata George Whitesides, pemimpin penelitian dalam studi itu. George berkata mereka ingin membuat robot yang lincah seperti laba-laba.

Tim itu memotong sedotan plastik supaya bisa dibengkokkan. Lalu, merangkai sedotan itu menjadi kaki laba-laba. Sebagai otot tendon mereka menempelkan benang karet. Robot ini digerakkan oleh microcontroller Arduino.

Saat ini robot itu diciptakan dengan sedotan, tapi begitu konsepnya sudah matang, model selanjutnya akan dibuat dengan polimer berstruktur yang ringan. Robot-robot berbentuk serangga ini kelak bisa digunakan untuk misi pencarian dan penyelamatan di area-area bencana. Hal ini mungkin karena robot-robot itu gesit dan kecil dan bisa masuk ke reruntuhan bangunan dan tempat yang sulit dijangkau manusia.

 

Sumber: news.harvard.edu

Meja Kantor Pintar Ini Membantu Karyawan Lebih Sehat

Dilihat: 973

Furnitur kantor cerdas disebut Live OS ini dibuat oleh Herman Miller, brand furnitur ternama. Live OS menggunakan sensor yang dipasang di meja dan bisa dipasang di setiap permukaan yang ada di kantor. Sensor itu mengumpulkan data kepada perusahaan tentang bagaimana ruang-ruang di kantor digunakan. Live OS hanya melacak data jika ada orang di sana.

Saat Live OS digunakan dengan meja sit-to-stand yang dibuat Herman, maka OS itu memiliki fungsi berbeda. Dengan aplikasi di dalamnya, orang bisa menentukan tinggi meja. Mereka hanya perlu menyentuh sebuah tombol.

Pengguna juga bisa menetapkan gol aktivitas mereka (misal berdiri 12 menit setiap 60 menit). Saat waktunya mengubah sikap tubuh, meja itu akan memfasilitas perubahan dengan mengirim getaran lembut.

Herman Miller berkata jika sistem ini untuk mendorong orang bergerak lebih sering di tempat kerja. “Tes awal kami mengindikasikan jika para pegawai yang menggunakan meja Live sit-to-stand menjadi lebih aktif,” kata Ryan Anderson, kepala komersialisasi untuk Live OS.

Sensor dibeli terpisah seharga $100, sementara software digunakan dengan sistem berlangganan sebesar $36 per tahun. Software untuk meja sit-to-stand dengan sensor Live OS dijual seharga $60 per tahun. (ranu)

 

Sumber: The Verge.

Mengenal Sekilas tentang Cryptocurrency

Dilihat: 1026

Beberapa bulan lalu dunia termasuk Indonesia dihebohkan dengan isu ransomware, software yang menyandera komputer beserta file di dalamnya. Supaya pengguna bisa menggunakan kembali komputernya dan menyelamatkan datanya, mereka perlu membayar uang tebusan dengan menggunakan salah satu cryptocurrency yaitu Bitcoin. Sebenarnya apa itu cryptocurrency?

Cryptocurrency adalah mata uang digital yang menggunakan teknik-teknik enkripsi untuk mengatur nilai mata uang dan menverifikasi transfer uang. Cryptocurrency bekerja secara independen dan terpisah dari bank pusat. Dengan adanya crytpcurrency seperti bitcoin, orang bisa mengumpulkan kekayaan tanpa batasan dan penyitaan.

Lantas bagaimana sejarah singkat mata uang ini? Pada 1998, Wei Dai merilis “b-money”, sebuah sistem distribusi uang elektronik. Segera sesudah itu, Nick Szabo menciptakan “Bit Gold”, sistem mata uang elektronik yang dilengkapi proof-of-work, sistem untuk mencegah serangan DDOS dan spam. Mata uang elektronik ini dienkripsi. Cryptocurrency yang terdesentralisasi pertama yang dibuat adalah bitcoin. Mata uang bitcoin diduga diciptakan oleh Satoshi Nakamoto pada 2009. Bitcoin menggunakan SHA-256, sebuah fungsi crytographic hash sebagai skema proof of work. Pada April 2011, Namecoin diciptakan sebagai usaha membentuk DNS yang terdesentralisasi, sehingga sensor internet akan sulit dilakukan untuk mata uang ini. Segera sesudah itu, Litecoin dirilis.

Legalitas cryptocurrency berbeda-beda dari satu negara ke negara lain. Beberapa negara masih belum mengambil sikap tentang keberadaan cryptocurrency. Beberapa negara secara eksplisit memperbolehkan penggunaannya, sementara yang lain melarang atau membatasinya. Begitu pula, berbagai badan negara, departemen dan pengadilan memiliki sikap berbeda terhadap bitcoin. Misalnya China Central Bank melarang penanganan bitcoin oleh institusi finansial di Cina. Di Rusia, cryptocurrency legal, tapi menggunakannya untuk membeli barang-barang dianggap ilegal. (ranu)

Sumber: Wikipedia.

 

Apa Itu 5G dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Dilihat: 1682

Dalam beberapa hal, 5G lebih cepat dibandingkan 4G. Untuk saat ini para ahli belum menemukan kesepakatan dalam arti 5G dan belum ada standar terkait hardware yang dibuat. Berbagai operator seluler besar di dunia sibuk menguji dan membanggakan teknologi mereka sendiri. Teknologi ini mereka aku sebagai 5G. Tapi sayangnya teknologi itu berbeda-beda.

Satu-satunya kesamaan dari beragam teknologi itu adalah anggapan jika 5G akan lebih cepat, lebih stabil dan serba guna. Mencapai kecepatan 10Gbps dianggap mungkin bagi 5G. Jaringan internet ini kelak akan menggantikan jaringan WiFi di rumah, menawarkan kecepatan yang lebih cepat dan jangkauan yang lebih luas.

“Pada dasarnya, 5G akan menyediakan saluran pipa yang lebih lebar dan jalur yang lebih cepat,” kata juru bicara Verizon Marc Tracey. Misalnya jika teknologi 5G lebih cepat 10 kali dibandingkan 4G LTE, maka Anda bisa mendownload sebuah film dalam hitungan detik. Kita juga bisa menikmati siaran VR (virtual reality) langsung di dalam headset tanpa lag.

Cara kerja 5G

Jaringan 5G yang sekarang ini direncanakan akan beroperasi dengan pita frekuensi tinggi dari spektrum nirkabel antara 30GHz hingga 300GHz. Pita ini disebut spektrum gelombang milimeter. Gelombang milimeter ini bisa mentransfer data dengan kecepatan sangat tinggi, tapi mereka tidak berpindah menggunakan gelombang frekuensi yang lebih rendah yang digunakan dalam jaringan 4G. Gelombang ini juga susah melewati tembok, bangunan dan penghalang lainnya.

Pada jaringan yang lebih rendah seperti 4G LTE, antena bisa terpisah jauh dan penghalang-penghalang di atas bukanlah masalah besar. Tapi saat jaringan 5G dibangun, para operator seluler harus menggunakan lebih banyak antena untuk memperoleh jangkauan yang sama dengan jaringan yang saat ini ada. Anda akan melihat antena mini di mana-mana.

Itulah sebabnya beberapa perusahaan seperti Qualcomm dan Intel bereksperimen menggunakan jarak sub-6 Ghz untuk menambah sinyal gelombang milimeter dengan sesuatu yang lebih stabil. Untuk saat ini jaringan 5G masih dalam bentuk yang sangat awal. (ranu)

 

Sumber: Wired.com

Sampah Logam Diubah Jadi Baterai Potassium-Ion

Dilihat: 666

Sampah stainless steel seringkali digunakan sebagai filter dan layar dalam fasilitas seperti pabrik pengolahan air limbah atau poros ventilasi. Tapi begitu materi logam ini ditutupi karat dan melemah, biasanya stainless steel ini hanya dibuang. Sekarang para peneliti Cina menemukan cara untuk mengubah sampah lobam ini menjadi elektroda dalam baterai potassium-ion.

Baterai yang kerap digunakan saat ini adalah lithium-ion. Tapi baterai jenis ini memiliki beberapa masalah. Sebagai permulaan, baterai ini menurun kinerjanya seiring dengan bertambahnya usia terutama jika tidak disimpan di tempat yang dingin. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk meledak. Dan dibandingkan dengan baterai sodium-ion atau potassium-ion, mereka lebih mahal harganya.

Baterai potasium bisa menjadi alternatif yang lebih murah dan stabil untuk baterai lithium. Metode baru ini dikembangkan oleh tim dari the Chinese Academy of sciences dan Jilin University yang mengatasi masalah dalam penanganan potassium-ion yang besar dan sampah logam yang banyak.

Pertama, para peneliti mengambil sampah stainless steel itu dan mencelupkannya ke dalam larutan potassium ferrocyanide. Lauran ini biasanya digunakan untuk berkebun, membuat anggur dan sebagai agen anti kering pada garam. Saat logam dicelupkan ke larutan, ion besi, chromium dan nikel melucuti karat. Kemudian karat itu bergabung dengan ion ferrocyanide membentuk Prussian blue.

Setelah itu, logam yang sekarang bernama biru itu dicelupkan ke dalam larutan graphene oxide, yan g melapisi logam sehingga matriks Prussian blue tidak menggumpal. Selain itu larutan itu memberikan logam biru itu kemampuan lebih untuk mengkonduksi listrik.

 

Sumber: NewsAtlas.com

Anda disini: Home Media Publik Sains dan Edukasi
STP Homepage

Kawasan Solo Technopark (STP) secara resmi berada di bawah pengelolaan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.

Layanan Pengguna